Memaknai Perintah Qurban Bagi Kehidupan Manusia

Memaknai Perintah Qurban Bagi Kehidupan Manusia

Edisi No: 059/LDNU/III/06/2026

Khutbah I

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ 

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ

 اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لِلْمُسْلِمِينَ عِيدًا مُبَارَكًا، وَأَمَرَنَا بِتَقْوَاهُ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah

Di pagi yang penuh berkah ini mari kita senandungkan lantunan takbir, tasbih, Tahmid dan tahlil, sebagai wujud syukur ke hadirat Allah Swt atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan sebenar-benarnya takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Karena hanya dengan ketakwaanlah kita akan memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.

Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya  dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Hari ini kita berkumpul mengumandangkan takbir, merayakan Idul Adha, hari raya penyembelihan. Ritual kurban bukan sekadar memotong hewan dan membagikan dagingnya. Di balik tradisi tahunan ini, terdapat narasi radikal tentang iman, cinta, dan pelepasan yang dialami oleh Nabi Ibrahim AsS dan putranya, Ismail As.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰى قَالَ يٰاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢ 

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Jika kita membedah kisah ini dengan analisis mendalam, perintah menyembelih Ismail bukanlah bentuk kekejaman ilahi. Perintah itu adalah ujian puncak untuk membersihkan hati Ibrahim dari segala bentuk "berhala duniawi". Ismail lahir setelah dinanti selama puluhan tahun. Kehadirannya memicu limpahan cinta seorang ayah yang luar biasa besar. Allah Swt menguji Ibrahim untuk melihat apakah cinta kepada sang anak telah menggeser cinta utama kepada Sang Pencipta.

Melalui mimpi itu, Allah bertanya: "Siapakah pemilik sejati hatimu, Ibrahim?" Ketika Nabi Ibrahim memantapkan hati untuk melaksanakan perintah tersebut, dan Ismail dengan ridha menyerahkan lehernya, mereka telah berhasil melakukan penyembelihan maknawi. Mereka menyembelih ego, menyembelih kepemilikan semu, dan menyembelih keterikatan buta pada dunia. Ketika pisau tajam menyentuh leher Ismail, Allah menggantinya dengan seekor domba. Ini membuktikan bahwa Allah tidak pernah menginginkan darah manusia; Allah hanya menginginkan ketundukan jiwa.

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Adha yang dirahmati Allah,

Mari kita refleksikan peristiwa agung ini dengan kondisi umat manusia saat ini. Manusia modern abad ke-21 sedang mengalami krisis eksistensial yang akut. Kita hidup di era di mana "Ismail-Ismail modern" terus bermunculan dalam hidup kita tanpa kita sadari.

Apa itu "Ismail modern"? Ismail modern adalah segala sesuatu yang kita cintai secara berlebihan hingga mendominasi hati kita dan menjauhkan kita dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Adapun “ismail modern” yang menjadi penyakit manusia saat ini sebagai berikut:

1.    Penyembahan Ego dan Materi: Manusia saat ini sering kali mengorbankan prinsip moral demi mengejar harta, takhta, dan reputasi digital. Kita menjadi enggan "menyembelih" keserakahan kita demi membantu sesama yang kelaparan dan tertindas.

2.    Krisis Empati Global: Di belahan dunia lain, kita melihat genosida, perang, dan ketidakadilan sistemik. Banyak manusia menyaksikan penderitaan sesamanya dengan dingin karena enggan mengorbankan kenyamanan pribadi demi menyuarakan kebenaran.

3.    Keterasingan Jiwa (Alienasi): Teknologi mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat. Kita memiliki segalanya, namun kehilangan kedamaian spiritual. Kita takut kehilangan harta materi, namun abai terhadap keringnya jiwa.

Idul Adha hadir sebagai kritik tajam bagi gaya hidup modern yang egosentris. Pengorbanan Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa kemajuan peradaban tidak akan pernah tercapai tanpa adanya kerelaan untuk berkorban (spirit of sacrifice). Sebuah bangsa akan hancur jika warganya hanya menuntut hak tanpa mau menjalankan kewajiban dan berkorban demi kemaslahatan bersama.

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Hewan kurban yang kita sembelih hari ini adalah simbol. Tanduknya, darahnya, dan dagingnya adalah pengingat bahwa ada sifat-sifat kebinatangan di dalam diri kita yang harus disembelih: sifat rakus, merasa benar sendiri, menindas yang lemah, dan egois.

Ketika kita mendistribusikan daging kurban kepada fakir miskin, kita sedang merajut kembali rajutan sosial yang robek akibat kesenjangan ekonomi. Kita sedang menurunkan ego kita untuk menyatu dengan mereka yang kekurangan.

Semoga hari raya Idul Adha ini tidak berlalu sebagai ritual kosmetik belaka. Mari kita jadikan momentum ini untuk memeriksa hati kita masing-masing. Tanyakan pada diri kita: "Apa Ismail di dalam hatiku yang harus aku sembelih hari ini agar aku bisa lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama manusia?"

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.  

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابهِ أَجْمَعِينَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، حِيثُ قَالَ:إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ,اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

*(Penulis: Ust. Ilman,M.Sos.: Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)-PCNU Kota Bekasi)

Artikel Terkait

Kiat Meningkatkan Taqwa Kepada Allah swt

Lima Keutamaan Sholat Subuh Berjamaah

Kiat Meningkatkan Keimanan