KH. Muhajirin Amsar Ad-Dary: Ulama Falak Nusantara yang Bersahaja dan Produktif

KH. Muhajirin Amsar Ad-Dary: Ulama Falak Nusantara yang Bersahaja dan Produktif

Nama KH. Muhammad Muhajirin Amsar Ad-Dary merupakan salah satu figur penting dalam khazanah keilmuan Islam di Indonesia, khususnya dalam tradisi ulama Betawi. Lahir di Kampung Baru, Cakung, Jakarta Timur pada 10 November 1924, beliau tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan dan agama. Ayahnya, H. Amsar bin Fiin, dan ibunya, Hj. Zuhairah binti H. Syafii, memberikan fondasi kuat bagi perjalanan intelektual dan spiritualnya hingga wafat di Bekasi pada 31 Januari 2003.

Sejak kecil, Kiai Muhajirin telah menunjukkan ketekunan dalam menuntut ilmu. Ia belajar kepada sejumlah ulama terkemuka di sekitar kampungnya, seperti KH. Hasbiyallah dan Syekh Abdul Majid. Semangat keilmuannya kemudian membawanya menempuh perjalanan jauh ke Tanah Suci Mekkah pada tahun 1947 melalui jalur laut. Di sana, beliau tidak hanya menunaikan ibadah, tetapi juga memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman kepada para ulama internasional, termasuk Syekh Hasan Muhammad Al-Mishati dan Syekh Muhammad ‘Ali al-Maliki. Bahkan, dalam bidang hadis, beliau berguru kepada ulama besar asal Indonesia, Syekh Yasin al-Fadani.

Salah satu bidang yang paling menonjol dari keilmuan beliau adalah Ilmu Falak. Kiai Muhajirin dikenal sebagai pakar falak yang berperan penting dalam penentuan awal bulan Hijriyah, termasuk Ramadan, Idul Fitri, dan Dzulhijjah di Indonesia. Keahliannya diperoleh dari bimbingan para guru seperti Syekh Ahmad bin Muhammad dan Syekh Mansur al-Falaki, yang kemudian ia kembangkan dan ajarkan kepada generasi berikutnya.

Di balik kedalaman ilmunya, Kiai Muhajirin dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana dan bersahaja. Meskipun berasal dari keluarga yang berkecukupan, beliau tidak pernah menampilkan kemewahan dalam hidupnya. Gaya berpakaian yang apa adanya serta sikap hidup yang rendah hati menjadi ciri khasnya. Dalam mendidik keluarga, beliau juga dikenal tegas, khususnya kepada putri-putrinya yang diwajibkan memperdalam ilmu agama sebagai benteng menghadapi tantangan zaman.

Produktivitas ilmiah Kiai Muhajirin juga sangat luar biasa. Tercatat tidak kurang dari 34 kitab telah beliau tulis, mencakup berbagai bidang seperti nahwu, balaghah, tauhid, ushul fiqh, hadis, mantiq, tasawuf, hingga sejarah Islam. Karya-karyanya seperti Al-Qawâ’id al-Nahwiyah, Mukhtârât al-Balâghah, Misbâh al-Zalâm fî Syarh Bulugh al-Marâm, dan Al-Tanwir fî Usûl al-Tafsîr menjadi bukti keluasan ilmunya sekaligus kontribusinya dalam pengembangan literatur keislaman di Nusantara.

Tak hanya sebagai penulis, beliau juga dikenal sebagai pendidik yang membentuk banyak murid dan penerus. Keilmuannya tidak hanya berhenti pada tulisan, tetapi hidup dalam tradisi pengajaran dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini menjadikan beliau sebagai bagian dari jaringan ulama Nusantara yang memiliki keterkaitan erat dengan Timur Tengah, baik dalam sanad keilmuan maupun tradisi intelektual.

Warisan Kiai Muhajirin Amsar Ad-Dary tidak hanya terletak pada karya-karya tulisnya, tetapi juga pada keteladanan hidupnya. Kesederhanaan, keteguhan dalam menuntut ilmu, serta dedikasi terhadap umat menjadi nilai-nilai yang terus relevan hingga saat ini. Sosoknya adalah representasi ulama sejati yang menggabungkan kedalaman ilmu dengan keluhuran akhlak, menjadikannya panutan bagi generasi Muslim Indonesia di masa kini dan mendatang.

Artikel Terkait