KH. Noer Ali (1914–1992) adalah sosok ulama Ahlussunnah wal Jamaah yang sekaligus dikenal sebagai pahlawan nasional asal Bekasi. Dikenal luas dengan julukan “Singa Karawang-Bekasi”, beliau menjadi simbol keberanian, kecintaan pada ilmu, dan pengabdian tanpa pamrih terhadap agama serta bangsa.
Sejak kecil, KH. Noer Ali telah menunjukkan kecerdasan luar biasa dan semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Ia belajar kepada para ulama di Bekasi seperti Guru Mughni dan KH. Marzuki sebelum melanjutkan pendidikannya ke Mekkah pada tahun 1934. Di tanah suci, beliau memperdalam ilmu-ilmu agama kepada para ulama besar sambil terus mengikuti kabar perjuangan bangsanya melalui surat kabar dan informasi dari tanah air.
Lima tahun kemudian, pada 1939, KH. Noer Ali kembali ke Indonesia dan mendirikan Pondok Pesantren Attaqwa di Ujung Malang, Bekasi. Pesantren ini menjadi pusat pendidikan Islam sekaligus basis perjuangan rakyat melawan penjajah. Beliau menolak keras kerja sama dengan pemerintah kolonial Jepang karena tak ingin pesantrennya disusupi kepentingan penjajah.
Dalam masa revolusi fisik, KH. Noer Ali memimpin langsung Laskar Hizbullah Bekasi, pasukan santri yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia turut memimpin pertempuran besar di Karawang dan Bekasi pada tahun 1947, memerintahkan rakyat untuk menancapkan bendera merah putih di setiap pohon sebagai tanda bahwa Indonesia masih berdiri dan siap melawan penjajah.
Atas keberaniannya di medan perang, beliau dijuluki “Singa Karawang-Bekasi”. Julukan ini menggambarkan ketegasan dan ketangguhan beliau dalam memimpin rakyat dan santri menghadapi pasukan kolonial Belanda, Jepang, hingga menghadapi ancaman pemberontakan PKI.
Selain dikenal sebagai pejuang, KH. Noer Ali juga sosok pendidik dan ulama panutan. Lewat pesantrennya, beliau menanamkan nilai-nilai Islam moderat dan nasionalisme kepada generasi muda. Hingga akhir hayatnya, beliau konsisten menegakkan dakwah dan pendidikan sebagai wujud cinta tanah air.
Sebagai bentuk penghargaan, KH. Noer Ali dianugerahi gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 085/TK/2006 pada 3 November 2006. Warisan perjuangannya hidup dalam lembaga pendidikan, ajaran, dan semangat juang masyarakat Bekasi yang menjadikannya kebanggaan daerah serta panutan umat.