Kota Bekasi – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Jatiluhur bersama GP Ansor Jatiluhur menggelar kegiatan Subuh Gabungan di Masjid Al-Hidayah, Jatiluhur, Kota Bekasi, Ahad (21/6/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peringatan 100 hari wafatnya almarhum Ahmad Zarkasi bin H. Abdul Ghani yang semasa hidupnya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal PRNU Jatiluhur.
Acara dihadiri sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama Kota Bekasi, di antaranya Rais Syuriah PCNU Kota Bekasi KH. Abu Bakar Rahziz, Katib Syuriah KH. Lukman Hakim, Wakil Rais Syuriah KH. Amar Hasan, Rais MWCNU Jatiasih KH. Labid Faidli, serta Ketua DKM Masjid Al-Hidayah Ust. Madin Sagita. Kehadiran para ulama dan pengurus NU tersebut menambah kekhidmatan kegiatan yang diikuti jamaah dari Jatiluhur dan sekitarnya.
Acara ini diisi dengan kajian Kitab Risalatul Mu’awanah oleh Wakil Rais Syuriah PCNU Kota Bekasi KH. Zaenal Abidin. Dalam paparannya, KH. Zainal menekankan pentingnya pendidikan agama yang kuat bagi generasi muda. Menurutnya, anak-anak tidak cukup hanya diajarkan membaca Iqra saja, tetapi juga harus dibekali pemahaman Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang kokoh, termasuk menghafal kitab Aqidatul Awam sebagai dasar akidah yang benar.
Ketua PRNU Jatiluhur Ust. Syahroni Jamhuri dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Subuh Gabungan telah menjadi salah satu identitas gerakan NU di wilayah Jatiluhur. Ia bersyukur keberadaan NU semakin dikenal masyarakat melalui kegiatan tersebut. Selain itu, sejumlah anak ranting NU juga telah terbentuk sebagai upaya memperkuat konsolidasi organisasi hingga tingkat lingkungan.
Sementara itu, KH. Abu Bakar Rahziz mengapresiasi perkembangan NU di Jatiluhur yang dinilainya berjalan dengan baik. Menurutnya, keberadaan NU yang aktif akan membawa keberkahan bagi masyarakat. Ia menegaskan bahwa semarak kegiatan keagamaan dan sosial yang dilakukan warga NU sangat banyak, mulai dari tahlilan, pernikahan hingga keberangkatan haji. Dan semuau kegiatan tersebut merupakan bagian dari gerakan yang menghadirkan manfaat bagi umat.

“Al-harakah barakah. La hayata wa la barakata illa bil harakah. Bahwa bergerak itu akan melahirkan keberkahan. Tidak ada hidup dan keberkahan, kecuali dengan bergerak,” ungkapnya.
Dalam tausiyahnya, KH. Abu Bakar juga mengingatkan bahwa kehidupan dan kematian merupakan ujian dari Allah SWT bagi manusia yang masih hidup. Ia menjelaskan bahwa amal yang terus mengalir setelah seseorang wafat adalah sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh. Menurutnya, keterlibatan dalam perjuangan NU juga dapat menjadi bagian dari amal jariyah selama menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh KH. Amar Hasan dan KH. Labid Faidli. Suasana haru dan kekhusyukan menyelimuti jamaah yang hadir, sekaligus menjadi momentum untuk mengenang jasa almarhum Ahmad Zarkasi serta memperkuat semangat khidmah dan perjuangan warga Nahdliyin di Jatiluhur.